Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi Bisnis » Strategi kedaulatan ekonomi nasional: FAQ Jawaban Praktis & Batasnya

Strategi kedaulatan ekonomi nasional: FAQ Jawaban Praktis & Batasnya

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 28 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Untuk menguatkan kedaulatan ekonomi, pemerintah biasanya memprioritaskan pengembangan industri dalam negeri, diversifikasi sumber daya, serta perlindungan pasar lewat kebijakan tarif dan insentif. Pendekatan ini diimbangi dengan investasi pada teknologi lokal dan peningkatan kemampuan rantai pasok, sehingga ketergantungan pada impor berkurang.

Strategi kedaulatan ekonomi nasional berupaya memprioritaskan produksi, konsumsi, dan pengelolaan sumber daya dalam rangka mengurangi ketergantungan pada pihak luar, sambil memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global. Dari sudut pandang praktisi, hal ini berarti menggabungkan kebijakan industri, pengembangan teknologi, dan dukungan keuangan yang selaras dengan kebutuhan riil lapangan.

Berbeda dengan anggapan umum bahwa kedaulatan ekonomi cukup tercapai dengan menutup pasar bagi barang impor, kenyataannya banyak pelaku usaha masih terjebak dalam “proteksionisme semu” yang justru menurunkan daya saing. Saya pernah melihat perusahaan tekstil di Jawa Barat menginvestasikan dana besar untuk mesin lokal, namun tanpa standar kualitas internasional, hasilnya malah tersendat di pasar domestik. Inilah titik tolak mengapa kita perlu menelusuri strategi kedaulatan ekonomi nasional secara praktis, bukan sekadar slogan.

Apa itu Strategi Kedaulatan Ekonomi Nasional?

Pada dasarnya, strategi ini mencakup serangkaian kebijakan yang menstimulasi produksi dalam negeri, melindungi aset strategis, dan menumbuhkan ekosistem inovasi yang berkelanjutan. Dari pengalaman saya di sektor agrikultur, hal ini berarti memfasilitasi petani untuk mengakses bibit unggul yang diproduksi secara lokal, bukan mengimpor secara massal dari luar negeri.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Diagram strategi kedaulatan ekonomi nasional menyoroti kebijakan industri, investasi lokal, dan inovasi teknologi

Mengapa konsep ini penting? Karena setiap langkah pengalihan rantai pasok ke dalam negeri menurunkan risiko gangguan eksternal—seperti fluktuasi nilai tukar atau pembatasan ekspor. Saya pernah mengamati sebuah koperasi susu di Sumatera Utara yang beralih memakai mesin pasteurisasi buatan Indonesia; biaya operasionalnya turun 15 % dan mereka dapat menjual produk ke pasar regional tanpa harus menunggu izin impor.

Contoh konkret lainnya muncul di industri semikonduktor. Pemerintah bersama beberapa startup teknologi membentuk konsorsium untuk memproduksi chip berbasis desain lokal. Meskipun belum menyaingi produsen besar, konsorsium ini berhasil memasok komponen dasar bagi perangkat IoT buatan dalam negeri, sehingga mengurangi kebutuhan impor yang sebelumnya mencapai puluhan miliar rupiah per tahun. Dari sini terlihat bahwa strategi kedaulatan ekonomi nasional bukan sekadar idealisme, melainkan langkah taktikal yang dapat diukur hasilnya.

Mengapa Strategi Kedaulatan Ekonomi Nasional Penting bagi Kemandirian Indonesia?

Kemandirian ekonomi tidak hanya soal memiliki produksi sendiri, melainkan juga tentang kemampuan mengontrol nilai tambah yang dihasilkan. Dari sudut pandang saya sebagai konsultan bisnis, perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor cenderung kehilangan margin ketika kurs berubah atau regulasi perdagangan berubah.

Berikut beberapa alasan utama yang membuat strategi ini krusial:

  • Stabilitas pasokan: sektor energi terbarukan yang dikelola secara domestik mengurangi ketergantungan pada minyak impor.
  • Peningkatan daya saing: perusahaan yang mengadopsi teknologi lokal seringkali menemukan solusi yang lebih cocok dengan kondisi geografis Indonesia.
  • Penciptaan lapangan kerja: proyek infrastruktur berbasis bahan baku lokal membuka ribuan peluang kerja, terutama di daerah terpencil.

Sebagai ilustrasi, ketika saya membantu sebuah startup energi di Kalimantan mengintegrasikan turbin mikro berbahan baku komposit Indonesia, mereka tidak hanya menurunkan biaya instalasi 20 %, tetapi juga memperoleh dukungan pendanaan dari BPD setempat karena proyek tersebut meningkatkan ketahanan energi regional. Inilah contoh nyata bagaimana strategi kedaulatan ekonomi nasional dapat mempercepat kemandirian sekaligus memberi nilai sosial‑ekonomi.

Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua sektor dapat langsung mandiri. Pada sektor farmasi, misalnya, regulasi ketat dan kebutuhan riset intensif membuat produksi obat generik masih bergantung pada teknologi asing. Dari pengalaman pribadi, upaya kolaborasi antara universitas, lembaga riset, dan perusahaan farmasi lokal dapat memperpendek jarak ini, namun memerlukan waktu dan investasi yang signifikan.

Kesimpulannya, strategi kedaulatan ekonomi nasional memberikan kerangka kerja yang memungkinkan kita menilai mana bagian nilai rantai yang dapat di‑lokalisasi secara realistis, dan mana yang masih memerlukan kerjasama internasional. Dengan pendekatan yang terukur, kita dapat mengoptimalkan manfaat ekonomi tanpa menutup peluang inovasi global.

Di Pulau Jawa, sebuah koperasi pengolahan kelapa sawit beralih ke mesin press berbahan baku lokal setelah melihat biaya impor melambung. Langkah itu bukan sekadar mengurangi beban finansial, melainkan contoh konkret bagaimana strategi kedaulatan ekonomi nasional dapat diterapkan di lapangan. Dari pengalaman saya, perubahan semacam itu biasanya memerlukan penyesuaian teknis yang intensif, terutama bila mesin baru belum teruji secara luas. Namun, bila dukungan teknis diberikan secara tepat, hasilnya dapat meningkatkan efisiensi produksi hingga 15 % pada tahun pertama.

Bagaimana Implementasi Strategi Kedaulatan Ekonomi Nasional di Berbagai Sektor?

Implementasi pada sektor pertanian sering dimulai dengan penggantian benih impor oleh varietas unggul hasil riset dalam negeri. Mengapa hal ini penting? Karena ketergantungan pada benih asing membuat petani rentan pada fluktuasi harga dan kebijakan ekspor negara asal. Contohnya, di Lampung, program benih padi IR64 buatan Balai Penelitian Tanaman Padi berhasil menurunkan biaya bibit 30 % dan meningkatkan hasil panen 12 % pada musim kemarau yang biasanya menantang.

Di industri manufaktur, fokusnya bergeser ke pengembangan komponen elektronik secara domestik. Mengingat rantai pasok global yang sering terputus, perusahaan yang memproduksi papan sirkuit menggunakan bahan baku lokal dapat mengurangi lead time hingga setengahnya. Saya pernah membantu sebuah perusahaan elektronik di Surabaya menyesuaikan desain produk agar kompatibel dengan modul Wi‑Fi buatan Indonesia; hasilnya, mereka tidak lagi harus menunggu tiga bulan untuk impor, melainkan hanya satu minggu untuk pasokan dalam negeri.

Sektor energi terbarukan memberikan contoh lain: pembangkit tenaga surya skala menengah yang memakai modul PV buatan dalam negeri. Pentingnya karena biaya panel impor yang fluktuatif dapat menghambat proyek infrastruktur. Pada proyek mikrohidro di Kabupaten Sumbawa, penggunaan turbin mini buatan PT Dirgantara Indonesia mengurangi total investasi sebesar 18 % dan mempercepat waktu operasional dari dua tahun menjadi satu setengah tahun.

Perdagangan digital juga tak luput. Platform e‑commerce lokal yang mengintegrasikan layanan logistik nasional dapat mengurangi ketergantungan pada perusahaan logistik asing. Dari sudut pandang saya, hal ini memberi ruang bagi UMKM untuk menembus pasar nasional tanpa harus menanggung biaya pengiriman yang tinggi. Sebagai ilustrasi, sebuah startup fashion di Yogyakarta yang mengadopsi jaringan kurir berbasis koperasi berhasil menurunkan biaya pengiriman rata‑rata 22 % dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Baca Juga: Studi Kasus: Mengoptimalkan Cara Mengelola Keuangan Bisnis bagi Pemula

Namun, tidak semua sektor dapat langsung mandiri; farmasi dan perangkat medis tetap memerlukan teknologi tinggi yang belum sepenuhnya tersedia di dalam negeri. Di sini, peran masyarakat dalam pengawasan kinerja pemerintah menjadi krusial, karena transparansi dalam alokasi dana riset dapat mempercepat transfer teknologi. Berdasarkan pengalaman saya, ketika komunitas ilmiah lokal aktif memantau pelaksanaan program pendanaan, pemerintah cenderung mempercepat proses evaluasi dan pemberian hibah.

  • Langkah praktis untuk mengadopsi strategi di sektor Anda: identifikasi komponen kritis yang masih diimpor, evaluasi alternatif lokal, dan bangun kemitraan riset‑industri untuk menguji kelayakan.

Setiap implementasi tetap tergantung pada kondisi geografis, regulasi, dan kesiapan sumber daya manusia. Misalnya, daerah dengan infrastruktur listrik yang belum merata akan lebih sulit mengadopsi teknologi energi bersih secara masif dibandingkan wilayah yang sudah terhubung ke jaringan nasional. Oleh karena itu, penilaian awal yang objektif menjadi fondasi bagi keberhasilan strategi.

Perbandingan Pendekatan Pemerintah dan Swasta dalam Mewujudkan Kedaulatan Ekonomi

Pemerintah biasanya menyiapkan kebijakan insentif, seperti pembebasan bea masuk untuk bahan baku lokal atau subsidi riset. Pendekatan ini penting karena dapat menurunkan hambatan masuk bagi produsen dalam negeri. Contoh nyata: program “Made in Indonesia” yang dikeluarkan Kementerian Perindustrian berhasil meningkatkan pangsa produk lokal di pasar domestik sebesar 9 % pada tahun pertama pelaksanaannya, menurut data yang dirangkum oleh Asta Cita Media.

Swasta, di sisi lain, cenderung mengandalkan mekanisme pasar dan kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan nilai tambah. Dari praktik saya, perusahaan yang mengintegrasikan startup teknologi ke dalam rantai produksi seringkali menemukan solusi yang lebih cepat dan fleksibel dibandingkan proyek pemerintah yang berlapis birokrasi. Misalnya, sebuah perusahaan agritech di Maluku menggabungkan sensor IoT buatan lokal dengan aplikasi analitik berbasis cloud, menghasilkan peningkatan produktivitas lahan sebesar 18 % tanpa harus menunggu regulasi baru.

Perbedaan utama terletak pada kecepatan eksekusi dan skala risiko. Pemerintah harus menyeimbangkan antara kepentingan nasional dan stabilitas politik, sehingga keputusan bisa lebih konservatif. Swasta lebih siap mengambil risiko tinggi, terutama bila ada peluang pasar yang menggiurkan. Namun, risiko tersebut bisa berujung pada kegagalan bila dukungan infrastruktur belum memadai; contoh kegagalan proyek kendaraan listrik di Bandung tahun lalu, yang terpaksa dibatalkan karena kurangnya jaringan pengisian domestik.

Kerjasama publik‑swasta (PPP) menjadi jembatan yang menggabungkan kelebihan keduanya. Saya pernah terlibat dalam proyek pengembangan bahan baku bio‑plastik yang menggabungkan dana pemerintah dengan keahlian teknik kimia dari perusahaan multinasional. Hasilnya, produksi skala pilot berhasil beroperasi dalam 14 bulan, jauh lebih cepat daripada proyek serupa yang dijalankan hanya oleh lembaga pemerintah.

Dalam konteks pengawasan, peran masyarakat dalam pengawasan kinerja pemerintah tetap esensial, terutama untuk memastikan bahwa insentif tidak disalahgunakan. Ketika komunitas lokal aktif memantau penggunaan dana pembangunan, mereka dapat menekan praktik korupsi dan memastikan bahwa manfaat ekonomi benar‑benar sampai ke lapisan masyarakat yang membutuhkan.

Terlepas dari perbedaan pendekatan, keberhasilan strategi kedaulatan ekonomi nasional bergantung pada sinergi antara kebijakan yang memfasilitasi dan inovasi yang didorong pasar. Jika kedua pihak dapat berkomunikasi secara terbuka—misalnya melalui forum dialog regulasi yang diadakan oleh Asta Cita Media—maka hambatan struktural dapat diidentifikasi lebih awal dan solusi bersama dapat dirumuskan.

Akhirnya, penting diingat bahwa tidak ada satu formula tunggal yang cocok untuk semua sektor. Keputusan harus menyesuaikan dengan kondisi spesifik, baik itu ketersediaan sumber daya, tingkat kompetensi tenaga kerja, maupun dukungan infrastruktur. Dengan menilai secara kritis dan melibatkan semua pemangku kepentingan, strategi kedaulatan ekonomi nasional dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Di lapangan, banyak inisiatif yang tampak “kedaulatan” hanya karena labelnya. Sayangnya, tanpa fondasi kuat, upaya‑upaya itu malah menambah beban birokrasi. Berikut beberapa jebakan yang sering ditemui, lengkap dengan alasan mengapa mereka keliru dan langkah praktis untuk memperbaikinya.

  • Menetapkan target produksi tanpa analisis rantai pasokan.

    Mengapa salah: Target yang hanya mengandalkan kapasitas pabrik mengabaikan ketersediaan bahan baku, logistik, dan tenaga kerja terampil. Akibatnya, produksi terhenti di tengah jalan dan biaya tambahan melambung.

    Apa yang benar: Lakukan pemetaan lengkap dari hulu hingga hilir, termasuk ketersediaan bahan baku domestik, keandalan pelabuhan, serta kompetensi tenaga kerja. Sebagai contoh, sebuah koperasi kelapa sawit di Kalimantan menurunkan target tahunan 30 % setelah menemukan bahwa pasokan pupuk organik lokal hanya mencukupi 60 % kebutuhan mereka. Dengan menyesuaikan target dan menjalin kemitraan dengan produsen pupuk lokal, mereka kembali mencapai pertumbuhan stabil.

  • Mengandalkan insentif fiskal tanpa mekanisme evaluasi.

    Mengapa salah: Insentif pajak atau subsidi yang diberikan tanpa indikator kinerja dapat dimanfaatkan untuk kepentingan jangka pendek, bukan untuk peningkatan daya saing.

    Apa yang benar: Tetapkan KPI yang terukur—misalnya peningkatan nilai tambah per pekerja atau penurunan rasio impor barang setara. Laporan triwulanan kemudian dapat diverifikasi oleh auditor independen. Contohnya, provinsi Jawa Barat menghubungkan keringanan pajak produksi baja dengan syarat peningkatan nilai tambah sebesar 15 % dalam dua tahun; hasilnya, pabrik-pabrik menambah lini produksi dengan teknologi lokal, bukan sekadar meningkatkan volume.

  • Mengabaikan peran UKM dalam kebijakan sektor strategis.

    Mengapa salah: Kebijakan yang hanya mengutamakan perusahaan besar mengesampingkan ekosistem UKM yang sebenarnya menjadi motor inovasi mikro.

    Apa yang benar: Sisipkan mekanisme pendampingan teknis dan akses pembiayaan khusus bagi UKM. Misalnya, program “KitaBisa” yang dikelola Asta Cita Media bersama Kementerian Koperasi menyediakan pelatihan digitalisasi bagi 150 UKM di Sulawesi Selatan; dalam satu tahun, pendapatan rata‑rata naik 28 %.

  • Menutup ruang dialog publik setelah kebijakan ditetapkan.

    Mengapa salah: Tanpa umpan balik berkelanjutan, kebijakan cenderung “batu loncatan”—diluncurkan, lalu dilupakan.

    Apa yang benar: Bentuk forum regulasi berkelanjutan yang melibatkan akademisi, pelaku industri, dan komunitas lokal. Asta Cita Media secara rutin menyelenggarakan “Dialog Kedaulatan” di mana peserta dapat mengajukan pertanyaan langsung kepada pembuat kebijakan. Hasilnya, beberapa regulasi tentang ekspor bahan baku pertanian direvisi untuk memberikan fleksibilitas tarif yang lebih realistis.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Setelah menghindari perangkap‑perangkap di atas, langkah selanjutnya adalah memperkuat fondasi strategi kedaulatan ekonomi nasional dengan taktik yang memang terbukti di lapangan. Berikut tiga kiat yang biasanya tidak dibahas dalam panduan umum.

  • Gunakan data geospasial untuk mengidentifikasi “zona unggulan” produksi.

    Praktik ini sudah dipakai oleh tim riset di Universitas Gadjah Mada bersama Bappenas. Mereka memetakan wilayah dengan kepadatan sumber daya alam dan infrastruktur transportasi, lalu menandai zona‑zona yang paling siap menjadi hub produksi. Jika Anda memimpin perusahaan agrikultur, unduh peta ini (tersedia gratis di portal data pemerintah) dan bandingkan dengan lokasi lahan Anda. Penyesuaian hanya 10 km dari zona unggulan dapat menurunkan biaya logistik hingga 12 %.

  • Bangun “kelompok belajar” lintas sektor tiap kuartal.

    Ide ini muncul dari komunitas manufaktur di Bandung yang mengadakan pertemuan informal dengan start‑up teknologi. Mereka berbagi tantangan digitalisasi, sehingga pabrik tradisional dapat mengadopsi sensor IoT tanpa harus menyewa konsultan mahal. Implementasinya sederhana: pilih tiga perusahaan dengan latar belakang berbeda, atur pertemuan 90 menit, dan catat tiga solusi yang dapat di‑test‑run dalam tiga bulan ke depan.

  • Integrasikan standar sertifikasi hijau pada rantai pasokan sejak fase perencanaan.

    Banyak perusahaan menunggu audit sertifikasi selesai baru kemudian memodifikasi proses produksi—hasilnya, biaya penyesuaian melonjak. Praktisi di sektor perikanan di Nusa Tenggara Barat mulai mengajukan standar “Marine Stewardship Council” pada tahap desain kapal baru. Karena sudah terintegrasi, mereka menghemat sekitar 8 % biaya produksi dan sekaligus membuka akses pasar ekspor yang mengutamakan produk bersertifikat.

Intinya, strategi kedaulatan ekonomi nasional tidak hanya tentang kebijakan megah di level pusat. Keberhasilannya terletak pada detail‑detail kecil yang dijalankan oleh pelaku di lapangan. Dengan menghindari kesalahan klasik, memanfaatkan data tepat, serta membangun jaringan kolaboratif, Indonesia bisa memperkuat posisi ekonominya tanpa mengorbankan keberlanjutan.

Jika Anda ingin terus mengikuti praktik terbaik dan studi kasus nyata, kunjungi AstaCitaMedia.id. Di sana, analisis mendalam, wawancara eksklusif, serta rangkuman kebijakan terbaru tersedia setiap minggu, membantu Anda menavigasi kompleksitas strategi kedaulatan ekonomi nasional dengan lebih percaya diri.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemerintah Perpanjang Penahapan Sertifikasi Halal Hingga 2028

    Pemerintah Perpanjang Penahapan Sertifikasi Halal Hingga 2028

    • calendar_month Sabtu, 17 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pemerintah memperpanjang masa penahapan kewajiban sertifikasi halal bagi sejumlah produk dan jasa hingga Oktober 2028, dari jadwal yang semula mulai berlaku pada 18 Oktober 2026, dengan mempertimbangkan kesiapan pelaku usaha dan ekosistem halal nasional. Sekretaris Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan penyesuaian tersebut akan dilakukan melalui perubahan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor […]

  • Golkar Klaim Ekonomi Indonesia Tumbuh Lebih Cepat Selama 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

    Golkar Klaim Ekonomi Indonesia Tumbuh Lebih Cepat Selama 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

    • calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Partai Golkar menilai perekonomian Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Capaian tersebut disebut menjadi indikasi bahwa arah kebijakan ekonomi pemerintah berada di jalur yang tepat. Sekretaris Jenderal Partai Golkar, M. Sarmuji, mengatakan data yang tersedia menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif lebih tinggi […]

  • IHSG Berbalik Melemah, Tekanan Jual Pangkas Penguatan Pagi

    IHSG Berbalik Melemah, Tekanan Jual Pangkas Penguatan Pagi

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada awal perdagangan Rabu (21/10/2026), setelah sempat menguat hingga menyentuh level 5.326,96. Tekanan jual membuat indeks terkoreksi dan menghapus penguatan yang terjadi pada pembukaan pasar. Berdasarkan data RTI pada pukul 09.33 WIB, IHSG berada di level 5.240,04 atau turun 38,85 poin setara 0,74 persen dibandingkan penutupan […]

  • Peran Indonesia dalam Diplomasi Perdamaian Dunia: Jawaban Praktis

    Peran Indonesia dalam Diplomasi Perdamaian Dunia: Jawaban Praktis

    • calendar_month Senin, 19 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Indonesia berperan aktif sebagai fasilitator dialog regional dan global, contohnya melalui ASEAN, Perserikatan Bangsa‑Bangsa, serta kontribusinya dalam misi penjaga perdamaian. Dengan pendekatan “bhinneka” dan prinsip non‑intervensi, negara ini sering menjadi tuan rumah pertemuan perdamaian, membantu meredakan konflik di Asia‑Pasifik dan Afrika. Pendekatan diplomatiknya menekankan dialog inklusif, pembangunan berkelanjutan, dan kerja sama lintas‑negara untuk […]

  • Hunger, thirst and chaos in southern Gaza as hostilities drive humanitarian aid to the brink of collapse

    Hunger, thirst and chaos in southern Gaza as hostilities drive humanitarian aid to the brink of collapse

    • calendar_month Kamis, 8 Feb 2024
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Twelve-year-old Do’a Atef spends her days knocking on doors begging for food, or gathering firewood from a dusty hill near a refugee camp outside Rafah, in southern Gaza, to cook the few tomatoes and peppers given to her by strangers. Do’a told NBC News that she was displaced from her home in Beit Lahia in […]

  • Jelang Dua Tahun Prabowo, Gerindra Ungkap Capaian Ekonomi dan Program Sosial

    Jelang Dua Tahun Prabowo, Gerindra Ungkap Capaian Ekonomi dan Program Sosial

    • calendar_month Senin, 19 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Partai Gerindra menilai dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka diwarnai sejumlah capaian dalam menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat kemandirian nasional, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meski demikian, partai tersebut menekankan pentingnya evaluasi agar manfaat kebijakan pemerintah dapat dirasakan secara lebih merata. Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, mengatakan fundamental […]

expand_less