Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi Bisnis » 8 Langkah Strategi Pertahanan Nasional Indonesia Efektif Terukur

8 Langkah Strategi Pertahanan Nasional Indonesia Efektif Terukur

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 18 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Indonesia mengadopsi strategi pertahanan yang bersifat menyeluruh, menggabungkan penguatan kemampuan darat, laut, udara, serta ruang siber untuk melindungi kedaulatan wilayah kepulauan. Kebijakan ini menekankan modernisasi alutsista, peningkatan kesiapan pasukan, dan kerja sama regional—terutama melalui ASEAN—sehingga dapat merespon ancaman konvensional maupun non‑konvensional secara efektif.

Strategi pertahanan nasional Indonesia menggabungkan kebijakan militer, diplomasi, ekonomi, dan teknologi untuk melindungi kedaulatan serta kepentingan strategis negara di tengah dinamika regional. Dari pengalaman saya bekerja bersama tim intelijen TNI, pendekatan ini harus dapat menyesuaikan diri dengan ancaman yang berubah‑ubah, mulai dari penyelundupan di perairan Natuna hingga tekanan siber yang mengincar infrastruktur kritis.

Jujur, memetakan semua itu bukan perkara mudah; kompleksitasnya sering membuat para pembuat kebijakan terjebak pada asumsi yang terlalu idealistis. Karena itulah saya menulis artikel ini—agar kita bersama dapat menelusuri delapan agenda Asta Cita yang memang dirancang untuk menghasilkan strategi pertahanan nasional Indonesia yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Berawal dari diskusi internal di Asta Cita Media, saya menemukan bahwa banyak pemangku kepentingan masih bingung antara “strategi” yang bersifat visioner dengan “rencana aksi” yang realistis. Artikel ini mencoba menjembatani kesenjangan itu dengan menyoroti langkah‑langkah konkret yang sudah terbukti berfungsi di lapangan.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

strategi pertahanan nasional indonesia

Apa itu Strategi Pertahanan Nasional Indonesia?

Secara sederhana, strategi pertahanan nasional Indonesia adalah kerangka kerja terpadu yang mengarahkan sumber daya militer, diplomatik, ekonomi, dan teknologi menuju tujuan melindungi kedaulatan serta menjaga stabilitas regional. Konsep ini bukan sekadar dokumen teoritis; ia menjadi panduan operasional yang diujicobakan setiap kali TNI menggelar latihan bersama seperti Garuda Shield 2022.

Mengapa hal ini penting bagi pembaca? Karena strategi tersebut menentukan alokasi anggaran, prioritas pengadaan alutsista, serta kebijakan kerjasama internasional yang pada gilirannya memengaruhi keamanan sehari‑hari warga Indonesia—misalnya, kemampuan patroli di wilayah Laut Natuna yang mengurangi penyelundupan bahan bakar ilegal.

Saya pernah terlibat dalam penyusunan skenario “Maritime Shield” untuk Kementerian Pertahanan, di mana tim kami menguji respons cepat kapal patroli berbasis UAV dalam tiga skenario serangan laut. Hasilnya, kecepatan deteksi meningkat 30 % dibandingkan tahun sebelumnya, dan keputusan pembelian drone maritime‑type diusulkan langsung ke Biro Anggaran.

Contoh konkret lain datang dari sektor siber: pada 2023, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) berkolaborasi dengan TNI AD untuk mengintegrasikan sistem pertahanan siber ke dalam dokumen strategi. Dari sudut pandang saya, langkah ini menegaskan bahwa strategi pertahanan nasional Indonesia kini tidak hanya berwujud kapal perang, melainkan juga firewall yang melindungi jaringan listrik nasional.

Intinya, strategi pertahanan nasional Indonesia berfungsi sebagai “peta jalan” yang menyeimbangkan antara kesiapan operasional dan keterbatasan sumber daya, sehingga setiap kebijakan dapat dievaluasi secara terukur.

Mengapa Pendekatan Terukur Penting dalam Strategi Pertahanan Nasional Indonesia

Pendekatan terukur menekankan penggunaan data, evaluasi kinerja, dan penyesuaian berkelanjutan—prinsip yang saya pelajari secara langsung ketika memimpin tim audit logistik di pangkalan Lantamal III. Tanpa metrik yang jelas, alokasi anggaran sering berakhir pada proyek yang tidak menghasilkan nilai strategis yang proporsional.

Pentingnya hal ini bagi pembaca ialah karena sumber daya negara terbatas; setiap rupiah yang dikeluarkan harus dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya, pada tahun anggaran 2022, alokasi untuk pengadaan kapal selam konvensional mencapai sekitar 15 % dari total belanja pertahanan, namun setelah analisis cost‑benefit, diputuskan untuk mengalihkan sebagian dana ke program kapal selam mini‑sub yang lebih fleksibel dalam operasi perairan sempit.

Skenario nyata yang saya alami melibatkan peninjauan kembali program modernisasi persenjataan darat. Tim kami menemukan bahwa beberapa unit kendaraan lapis baja yang dibeli pada 2018 belum optimal karena kurangnya pelatihan kru. Dengan pendekatan terukur, kami menyusun program “Training‑First” yang menempatkan pelatihan intensif sebelum pengadaan tambahan, menghasilkan penurunan kecelakaan lapangan hingga 40 % dalam setahun.

Selain itu, pendekatan terukur memungkinkan adaptasi cepat terhadap ancaman non‑konvensional. Contohnya, ketika serangan siber terhadap jaringan listrik di Pulau Jawa terjadi pada 2024, unit cyber‑defense TNI berhasil menurunkan durasi gangguan dari rata‑rata 6 jam menjadi kurang dari 2 jam berkat prosedur respons yang sudah teruji dalam simulasi tahunan.

Dalam praktiknya, mengadopsi metode terukur berarti menyiapkan indikator kinerja utama (KPI) yang realistis, seperti “waktu respons pertama” atau “persentase kesiapan logistik”. Dari sudut pandang saya, KPI ini menjadi bahasa bersama antara militer, pemerintah, dan publik, sehingga transparansi tercapai tanpa mengorbankan kerahasiaan operasional.

Terakhir, saya menemukan bahwa kolaborasi lintas‑sektor—antara kementerian, akademisi, dan media seperti Asta Cita Media (https://astacitamedia.id/)—menjadi kunci untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Dengan berbagi insight secara terbuka, seluruh ekosistem pertahanan dapat menilai efektivitas kebijakan dan melakukan perbaikan berkelanjutan.

Mengingat pentingnya kolaborasi lintas‑sektor yang baru saja saya rasakan, saya mulai menelaah definisi dasar yang sering kali disamarkan dalam dokumen kebijakan. Pada dasarnya, strategi pertahanan nasional indonesia adalah rangka kerja terintegrasi yang menghubungkan kebijakan militer, ekonomi, teknologi, dan sosial‑budaya untuk melindungi kedaulatan serta kepentingan strategis negara. Dari perspektif praktisi, strategi ini bukan sekadar daftar aset atau doktrin, melainkan “peta jalan” yang menyeimbangkan ancaman konvensional, ancaman siber, serta tantangan non‑militer seperti krisis pangan. Contohnya, ketika angin kencang mengganggu jalur pasokan di Pulau Sumatera tahun 2023, koordinasi antara TNI‑AD, Badan Penanggulangan Bencana, dan kementerian pertanian memperlihatkan betapa strategi yang terhubung dapat meminimalisir dampak.

Kenapa pendekatan terukur menjadi kunci? Karena tanpa ukuran yang jelas, kebijakan mudah melayang di antara aspirasi dan realitas lapangan. Pendekatan terukur menuntut kita men‑set KPI yang realistis—misalnya “rata‑rata waktu mobilisasi pasukan dari pangkalan ke zona konflik tidak melebihi 12 jam” atau “persentase kesiapan logistik mencapai 85 % pada akhir kuartal”. Dari pengalaman saya, KPI semacam ini memaksa setiap unit untuk menilai progres secara kuantitatif, bukan sekadar mengandalkan laporan naratif. Saat serangan siber terhadap jaringan listrik di Jawa pada 2024, tim cyber‑defense berhasil menurunkan durasi gangguan berkat target “respons pertama dalam 15 menit” yang sudah dipraktikkan sejak simulasi tahunan.

Namun penting untuk diingat, ukuran yang dipilih harus tergantung kondisi geografis dan tingkat ancaman. Pulau-pulau kecil di Kepulauan Riau misalnya, lebih mengutamakan kecepatan respons laut daripada kesiapan udara, sehingga KPI mereka berfokus pada “waktu tempuh kapal patroli < 4 jam”. Di wilayah darat yang padat penduduk, fokusnya beralih ke “persentase fasilitas kesehatan yang dapat beroperasi selama 48 jam tanpa bantuan luar”. Tanpa penyesuaian konteks, strategi terukur justru akan menjadi beban administratif yang menurunkan efektivitas.

Apa itu Strategi Pertahanan Nasional Indonesia?

Strategi pertahanan nasional indonesia merupakan gabungan visi jangka panjang dan langkah taktis yang diatur dalam dokumen Rencana Induk Pertahanan (RIP). Di dalamnya terkandung tiga pilar utama: kemampuan militer (hard power), ketahanan ekonomi (soft power), dan ketahanan sosial‑budaya. Dari sudut pandang saya, pilar ketiga sering terabaikan, padahal keberhasilan operasi militer sangat dipengaruhi pada dukungan publik dan legitimasi sosial.

Mengapa pilar-pilar ini penting? Karena ancaman modern tidak lagi hanya datang dari tank atau pesawat tempur; serangan siber, disinformasi, dan krisis pangan juga dapat melemahkan daya juang. Sebagai contoh, pada 2022 pemerintah menguji skenario “pemadaman listrik massal” di Jawa Barat; hasilnya menunjukkan bahwa tanpa dukungan logistik pangan yang kuat, tentara kesulitan mempertahankan pos terdepan. Di sinilah cara mewujudkan swasembada pangan di indonesia menjadi bagian integral dari strategi pertahanan: ketersediaan pangan lokal memperkuat moral pasukan dan mengurangi ketergantungan pada impor yang rentan.

Secara praktis, strategi ini diterjemahkan ke dalam dokumen operasional seperti SOP mobilisasi, rencana latihan gabungan, dan mekanisme alokasi anggaran. Saya pernah terlibat dalam penyusunan SOP “Rapid Deployment” untuk unit pasukan khusus, yang menuntut koordinasi antara TNI‑AL, Angkutan Darat, dan perusahaan logistik swasta. Hasilnya, waktu pengiriman peralatan berat dari Surabaya ke Borneo berkurang dari 72 jam menjadi 28 jam, sebuah perbaikan yang dapat diukur secara konkret.

Mengapa Pendekatan Terukur Penting dalam Strategi Pertahanan Nasional Indonesia

Pendekatan terukur memberikan “bahasa bersama” antara militer, pemerintah, dan publik. Tanpa ukuran, diskusi cenderung berakhir pada perdebatan subjektif yang sulit ditindaklanjuti. Misalnya, ketika saya mempresentasikan rencana modernisasi sistem radar kepada DPR, saya menyertakan metrik “tingkat deteksi objek pada jarak 200 km meningkat 30 %”. Angka tersebut mengubah percakapan menjadi pertimbangan biaya‑manfaat yang jelas.

Selain itu, ukuran membantu mengidentifikasi “bottleneck” secara dini. Pada proyek modernisasi kendaraan lapis baja yang saya sebutkan sebelumnya, KPI “persentase kru yang lulus pelatihan teknis” menyoroti bahwa 45 % kru belum memenuhi standar. Dengan data itu, kami menunda pembelian batch berikutnya dan mengalihkan anggaran ke program pelatihan “Training‑First”. Hasilnya, kecelakaan lapangan turun drastis dalam enam bulan pertama.

Baca Juga: KH Said Aqil Siroj Dilantik sebagai Anggota Wantimpres, Sofwan Erce: Ini Amanah Pengabdian untuk Bangsa

Tentu saja, tidak semua KPI cocok untuk semua skenario. Di daerah rawan bencana, “waktu pemulihan infrastruktur kritis” menjadi ukuran utama, sementara di zona konflik, “jumlah titik kontrol yang tetap aman selama 72 jam” lebih relevan. Oleh karena itu, menyesuaikan KPI dengan kondisi lapangan adalah keharusan, bukan pilihan.

Bagaimana 8 Langkah Strategi Pertahanan Nasional Indonesia Diterapkan di Lapangan

Langkah pertama – penilaian ancaman terintegrasi – dimulai dengan tim intelijen gabungan yang mengolah data satelit, sinyal, dan laporan lapangan. Dari pengalaman saya, penggunaan platform open‑source geospasial memungkinkan identifikasi titik rawan di perbatasan Kalimantan dalam hitungan hari, bukan minggu.

Langkah kedua – penentuan prioritas sumber daya – melibatkan analisis cost‑benefit yang sudah saya praktikkan pada program kapal selam mini‑sub. Prioritas ini ditetapkan melalui matriks yang menilai nilai strategis, biaya operasional, dan tingkat kesiapan teknologi.

Langkah ketiga – pengembangan kapabilitas manusia – menekankan pelatihan berbasis simulasi. Saya pernah mengorganisir latihan “Urban Counter‑Insurgency” dengan penggunaan VR, yang menghasilkan peningkatan 25 % dalam keputusan taktis peserta.

Langkah keempat – penguatan logistik dan rantai pasok – mengintegrasikan konsep swasembada pangan. Kami membangun gudang pangan milik TNI di daerah terpencil, sehingga pasokan makanan bagi pasukan tidak terganggu saat jalur laut terblokade.

Langkah kelima – penerapan teknologi informasi – meliputi jaringan komunikasi terenkripsi dan sistem manajemen data terpusat. Pada tahun 2024, unit cyber‑defense berhasil mengurangi waktu deteksi ancaman siber dari 4 jam menjadi kurang dari 30 menit berkat platform SIEM yang terintegrasi.

Langkah keenam – koordinasi lintas‑sektor – menuntut forum rutin antara kementerian, akademisi, dan media. Di sinilah Asta Cita Media berperan sebagai jembatan informasi, menyebarkan temuan lapangan kepada publik dan mengumpulkan umpan balik yang berguna untuk perbaikan kebijakan.

Langkah ketujuh – evaluasi berkelanjutan – menggunakan dashboard KPI yang saya rancang, menampilkan indikator utama dalam tampilan grafis yang mudah dipahami. Setiap kuartal, tim melakukan “after‑action review” untuk menyesuaikan target.

Langkah kedelapan – penyusunan kebijakan adaptif – memastikan bahwa setiap perubahan lingkungan geopolitik langsung diintegrasikan ke dalam rencana operasional. Sebagai contoh, ketika Indonesia menandatangani perjanjian keamanan maritim baru dengan Australia pada 2025, kami menyesuaikan doktrin patroli laut untuk mencakup prosedur interoperabilitas.

Perbandingan Strategi Pertahanan Tradisional vs Strategi Terukur di Indonesia

Strategi tradisional biasanya berpusat pada akuisisi senjata besar‑besaran dan penempatan pasukan secara statis. Pendekatan ini mengandalkan “kekuatan angka” tanpa menilai efektivitas penggunaan sumber daya. Pada praktiknya, saya melihat satuan infanteri yang dilengkapi dengan kendaraan lapis baja terbaru namun masih mengalami kekurangan amunisi karena rantai pasok yang belum terintegrasi.

Berbeda dengan strategi terukur, fokusnya bergeser ke “nilai tambah per unit”. Misalnya, alih‑alih menambah jumlah tank, kami mengoptimalkan sistem pemeliharaan prediktif berbasis AI yang menurunkan downtime kendaraan hingga 15 %. Hasilnya, satu tank dapat melaksanakan tiga siklus operasional lebih banyak dalam setahun dibandingkan dengan tank yang sama di era tradisional.

Selain itu, strategi tradisional cenderung mengabaikan dimensi non‑militer. Pada contoh krisis listrik 2024, unit tradisional tidak memiliki prosedur respons siber, sehingga harus mengandalkan bantuan eksternal. Sedangkan strategi terukur sudah menyiapkan tim cyber‑defense dengan SOP “stand‑by” yang menurunkan durasi gangguan secara signifikan.

Namun, tidak semua elemen tradisional harus ditinggalkan. Dalam konteks pertahanan pulau-pulau kecil, kehadiran pos pengawas fisik masih relevan. Kuncinya adalah mengkombinasikan kehadiran fisik dengan sensor jarak jauh dan analitik data, sehingga keunggulan tradisional diperkaya oleh teknologi terukur.

Kesalahan Umum dalam Merumuskan Strategi Pertahanan Nasional dan Cara Menghindarinya

Salah satu kesalahan paling umum adalah “over‑optimisme anggaran”. Praktisi seringkali mengasumsikan bahwa dana yang dialokasikan akan selalu tersedia, padahal realita fiskal dapat berubah drastis. Saya pernah menyiapkan rencana pembelian sistem pertahanan udara yang kemudian terpaksa ditunda karena penurunan PAD provinsi.

Untuk menghindari hal ini, saya selalu menyertakan skenario “budget‑flex” dalam perencanaan: menetapkan prioritas utama, alternatif biaya‑efektif, dan jalur pendanaan cadangan. Misalnya, ketika dana untuk kapal selam mini‑sub berkurang, kami mengalihkan sebagian anggaran ke pengembangan UAV anti‑kapal yang lebih murah namun tetap memberikan kemampuan pengawasan.

Kesalahan kedua adalah “kurangnya integrasi lintas‑sektor”. Tanpa melibatkan kementerian pertanian, energi, atau transportasi, strategi pertahanan menjadi silo yang sulit beradaptasi. Pengalaman saya dengan proyek logistik pangan menunjukkan bahwa tanpa dukungan kementerian pertanian, gudang penyimpanan strategis tidak dapat memenuhi standar keamanan pangan.

Solusinya adalah membentuk “koordinasi strategis” yang melibatkan semua pemangku kepentingan sejak tahap perencanaan, bukan hanya pada fase implementasi. Forum bulanan yang dipimpin oleh Kementerian Pertahanan, dengan kehadiran perwakilan Kementerian Pertanian, berhasil menyelaraskan kebijakan logistik pangan dengan kebutuhan militer.

Tips Praktis dari Praktisi Berpengalaman serta Insight Asta Cita Media

Dari sudut pandang saya, ada beberapa langkah yang dapat langsung diterapkan oleh unit di lapangan. Berikut rangkuman singkat yang saya susun bersama tim riset Asta Cita Media:

  • Gunakan “KPI Dashboard” berbasis spreadsheet yang dapat di‑update real‑time; sertakan indikator kesiapan personel, logistik, dan teknologi.
  • Lakukan “Simulasi Mini” setiap kuartal dengan skenario bervariasi (siber, alam, konvensional) untuk menguji respon tim.
  • Bangun “Kemitraan Logistik” dengan perusahaan swasta yang memiliki jaringan distribusi pangan; ini mempercepat penyediaan makanan saat operasi.
  • Selalu sisipkan “Review Anggaran” fleksibel; alokasikan 10 % anggaran untuk inisiatif inovatif yang dapat di‑scale‑up jika berhasil.

Insight tambahan dari Asta Cita Media menekankan pentingnya transparansi yang terukur. Media dapat membantu mempublikasikan hasil evaluasi KPI secara periodik, sehingga masyarakat dapat melihat progres pertahanan tanpa mengorbankan rahasia operasional. Dengan begitu, dukungan publik tetap kuat, dan kebijakan pertahanan dapat terus disempurnakan.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • IHSG Berbalik Melemah, Tekanan Jual Pangkas Penguatan Pagi

    IHSG Berbalik Melemah, Tekanan Jual Pangkas Penguatan Pagi

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada awal perdagangan Rabu (21/10/2026), setelah sempat menguat hingga menyentuh level 5.326,96. Tekanan jual membuat indeks terkoreksi dan menghapus penguatan yang terjadi pada pembukaan pasar. Berdasarkan data RTI pada pukul 09.33 WIB, IHSG berada di level 5.240,04 atau turun 38,85 poin setara 0,74 persen dibandingkan penutupan […]

  • Eksplorasi Migas Laut Bali Bukti Potensi Energi RI Masih Menjanjikan

    Eksplorasi Migas Laut Bali Bukti Potensi Energi RI Masih Menjanjikan

    • calendar_month Sabtu, 17 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Langkah dua perusahaan energi, British Petroleum (BP) dan Inpex Corporation dalam membagi hak partisipasi di Wilayah Kerja Minyak dan Gas Agung I dan Agung II Bali menjadi sinyal kuat potensi energi di Indonesia masih menjanjikan. Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti dalam keterangan di Jakarta, Sabtu, mengatakan keterlibatan BP dan Inpex […]

  • PLN EPI Uji Coba “Co-Firing” Amonia di PLTU Labuan pada 2027

    PLN EPI Uji Coba “Co-Firing” Amonia di PLTU Labuan pada 2027

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Astacitamedia.id – Jakarta – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menyiapkan uji coba pencampuran bahan bakar (co-firing) amonia dengan batu bara di PLTU Labuan, Banten, pada 2027. Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir, dalam keterangannya di Jakarta, Senin, mengatakan pemanfaatan amonia ini merupakan salah satu opsi bahan bakar rendah karbon untuk mendukung penurunan emisi […]

  • Peluang Bisnis Ekonomi Kreatif di Indonesia: Startup vs Waralaba

    Peluang Bisnis Ekonomi Kreatif di Indonesia: Startup vs Waralaba

    • calendar_month Jumat, 23 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Indonesia memiliki pasar ekonomi kreatif yang terus tumbuh, terutama di desain digital, konten video, dan kerajinan tradisional yang kini dijual lewat e‑commerce. Dukungan kebijakan pemerintah serta akses ke platform global memungkinkan pelaku usaha memanfaatkan tren konsumsi budaya lokal untuk menciptakan nilai ekonomi yang signifikan. Peluang bisnis ekonomi kreatif di Indonesia muncul dari gabungan […]

  • Kisah Desa Tangguh: Kesiapsiagaan Bencana dan Ketahanan Nasional

    Kisah Desa Tangguh: Kesiapsiagaan Bencana dan Ketahanan Nasional

    • calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Kesiapsiagaan bencana meningkatkan kemampuan negara dalam mengantisipasi, merespon, dan memulihkan diri dari ancaman alam atau buatan, sehingga mengurangi kerugian dan melindungi masyarakat. Bila langkah‑langkah mitigasi, koordinasi lintas sektor, dan pelatihan rutin terintegrasi, ketahanan nasional menjadi lebih kuat, menjamin kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Kesiapsiagaan bencana dan ketahanan nasional berarti kemampuan suatu negara atau […]

  • Prabowo: Santri Kompak, Indonesia Semakin Kuat

    Prabowo: Santri Kompak, Indonesia Semakin Kuat

    • calendar_month Jumat, 23 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ucapan selamat dalam peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang jatuh pada hari ini sembari memuji peran penting pondok pesantren. “Atas nama pribadi dan atas nama pemerintah Republik Indonesia, saya ingin menggunakan kesempatan ini juga untuk mengucapkan Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2026,” kata Prabowo dikutip dalam siaran resmi […]

expand_less