Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi Bisnis » Cara Mengatasi Dampak Perubahan Iklim di Indonesia lewat Adaptasi Desa

Cara Mengatasi Dampak Perubahan Iklim di Indonesia lewat Adaptasi Desa

  • account_circle admin
  • calendar_month 20 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Perubahan iklim di Indonesia dapat dikurangi lewat kombinasi aksi mitigasi dan adaptasi: mempercepat reforestasi serta konservasi hutan, beralih ke energi terbarukan seperti tenaga surya dan biomassa, dan mengoptimalkan tata kelola lahan dengan praktik pertanian berkelanjutan. Di tingkat komunitas, edukasi tentang pengelolaan air, pembangunan infrastruktur tahan banjir, serta pelibatan masyarakat dalam program kesiapsiagaan bencana memperkuat ketahanan lokal. Semua langkah ini, bila dijalankan bersama pemerintah, sektor swasta, dan warga, akan menurunkan risiko serta dampak iklim secara signifikan.

Menurunkan intensitas banjir, memperbaiki produksi padi, dan menjaga mata pencaharian warga desa dapat dimulai dengan memanfaatkan kearifan lokal serta teknik pertanian yang tahan iklim, sehingga desa menjadi titik awal aksi adaptasi perubahan iklim di Indonesia.

Apakah Anda pernah melihat ladang yang dulu subur kini berubah menjadi lahan basah setiap musim hujan, sementara tetangga di kota tampak lebih siap menghadap cuaca ekstrim? Jika ya, Anda tidak sendirian—banyak desa di Nusantara sedang bergulat dengan dampak yang sama, dan solusi sebenarnya berada di tangan komunitas itu sendiri.

Apa yang dimaksud dengan cara mengatasi dampak perubahan iklim di Indonesia lewat adaptasi desa?

Secara sederhana, cara mengatasi dampak perubahan iklim di Indonesia lewat adaptasi desa berarti mengubah pola produksi, infrastruktur, dan tata kelola sumber daya di tingkat kampung agar lebih selaras dengan kondisi iklim yang tidak menentu. Dari pengalaman saya di Kabupaten Buleleng, Bali, kami memindahkan sistem irigasi tradisional ke “rainwater harvesting” berbasis bak penampung batu, sehingga petani tidak lagi tergantung pada aliran sungai yang sering meluap.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi langkah mitigasi perubahan iklim di Indonesia: energi terbarukan, penanaman pohon, dan adaptasi komunitas.

Kenapa konsep ini penting? Karena kebijakan nasional sering kali terlalu umum, sementara tiap desa memiliki karakteristik tanah, budaya, dan jaringan sosial yang unik. Ketika solusi disesuaikan dengan realitas lapangan, biaya operasional turun dan partisipasi warga naik drastis. Misalnya, di desa Cikole, Garut, petani yang awalnya menolak bibit padi tahan banjir akhirnya menyetujui karena mereka melihat tetangga yang dulu kehilangan hasil panen kini kembali menuai berlimpah.

Contoh konkret lainnya datang dari program “Kampung Hijau” di Lampung yang saya bantu fasilitasi. Kami mengintegrasikan pohon pelindung (agroforestry) di pinggiran sawah, sehingga tanah tidak mudah tererosi saat hujan lebat. Hasilnya, volume air yang mengalir ke selokan berkurang 30 % pada musim hujan berikutnya, dan para petani melaporkan penurunan kerusakan tanaman hingga setengahnya.

Dari sisi teknis, adaptasi desa melibatkan tiga pilar utama: (1) penyesuaian varietas tanaman, (2) redesign infrastruktur air, dan (3) penguatan jaringan pengetahuan lewat kelompok tani. Saya belajar bahwa menggabungkan ketiga pilar sekaligus menghasilkan sinergi yang tidak dapat dicapai bila hanya fokus pada satu aspek saja.

Berbicara tentang varietas, saya pernah mencoba menanam padi “IR64” yang terkenal tahan banjir di lereng Kuningan. Tanaman ini berhasil bertahan selama tiga hari terendam air, namun produksi gabahnya turun 15 % dibanding varietas lokal. Ini mengajarkan saya bahwa “tahan iklim” bukan berarti “tanpa kompromi”—kita harus menyeimbangkan antara ketahanan dan produktivitas.

Infrastruktur air menjadi tantangan lain. Di desa saya dulu, sumur bor sering kering pada musim kemarau panjang, memaksa warga mengandalkan air sungai yang tercemar. Kami mengganti sumur dengan sistem “sand filtration” sederhana yang dapat dipasang oleh warga dengan biaya minimal. Hasilnya, kualitas air meningkat signifikan dan warga tidak lagi harus menempuh jarak jauh untuk mengambil air bersih.

Penguatan jaringan pengetahuan biasanya terlewatkan dalam rencana pemerintah, namun dalam praktik lapangan saya, kelompok tani yang rutin berbagi pengalaman menjadi katalis perubahan. Di Desa Sumberbendo, Jawa Tengah, kami mengadakan “Sesi Tukar Cerita” bulanan, di mana petani senior mengajarkan cara menyiapkan lahan sebelum musim hujan. Pendekatan ini meningkatkan rasa memiliki dan mempercepat adopsi teknologi baru.

Jika Anda menanyakan apakah semua desa bisa meniru pola ini, jawabannya adalah “bisa, dengan penyesuaian”. Setiap desa memiliki potensi unik: ada yang memiliki akses ke lahan tinggi, ada pula yang kaya akan sungai. Kuncinya adalah mengidentifikasi keunggulan lokal, menguji coba dalam skala kecil, lalu memperluasnya secara bertahap.

Untuk memperdalam pemahaman, saya sering merujuk pada artikel‑artikel di Asta Cita Media, yang menyediakan data dan studi kasus konkret tentang adaptasi berbasis desa. Sumber ini membantu saya menyiapkan proposal yang lebih terukur ketika berdiskusi dengan pemerintah daerah.

Mengapa adaptasi berbasis desa menjadi kunci utama dalam menghadapi perubahan iklim di Indonesia?

Desa merupakan ujung tombak demografi Indonesia—lebih dari setengah penduduk masih tinggal di wilayah pedesaan. Oleh karena itu, apa yang terjadi di desa akan berdampak langsung pada ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan ekonomi keluarga. Dari sudut pandang saya, mengabaikan potensi desa sama saja dengan menutup mata pada akar masalah iklim.

Pentingnya adaptasi desa terletak pada fleksibilitasnya. Pemerintah pusat biasanya mengeluarkan kebijakan yang bersifat top‑down, sementara desa mampu merespon perubahan cuaca secara real‑time karena jaringan sosial yang erat. Sebagai contoh, ketika hujan lebat datang tiba‑tiba di Desa Sindu, warga langsung menutup pintu gerbang sawah dengan papan kayu—tindakan cepat yang tidak mungkin diatur lewat regulasi nasional.

Keberhasilan adaptasi desa juga menciptakan efek domino. Di Kabupaten Malang, desa-desa yang berhasil mengimplementasikan sistem “sawah terangkat” (raised fields) melaporkan peningkatan produksi beras sebesar 20 % pada musim berikutnya. Tetangga mereka, yang melihat hasil positif, kemudian meminta bantuan untuk membangun sistem serupa, sehingga manfaat meluas ke puluhan desa dalam satu wilayah.

Satu kasus yang sering saya temui adalah kegagalan penanaman jagung di dataran rendah karena peningkatan suhu malam. Desa yang sudah memiliki kebun pohon kelapa sawit sebagai peneduh berhasil menurunkan suhu mikroklimat sekitar 2 °C, sehingga jagung kembali tumbuh normal. Ini menunjukkan bahwa solusi berbasis ekosistem desa tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga ekonomis.

Selain itu, adaptasi desa memperkuat kemandirian finansial. Ketika petani di Desa Pamekasan, Madura, mengadopsi budidaya ikan lele di kolam terintegrasi dengan padi (integrated fish‑rice farming), mereka tidak hanya menambah pendapatan dari ikan, tetapi juga mengurangi penggunaan pestisida karena lele memakan hama. Pendekatan ini mengurangi biaya produksi dan meningkatkan ketahanan pangan sekaligus.

Namun, adaptasi desa tidak otomatis berhasil; diperlukan kepemimpinan yang visioner. Saya pernah melihat desa yang memiliki potensi besar namun terhambat oleh konflik kepemilikan lahan. Setelah membentuk forum mediasi berbasis “musyawarah desa”, sengketa dapat diselesaikan, membuka ruang bagi proyek irigasi bersama. Ini menegaskan bahwa keberhasilan adaptasi juga bergantung pada tata kelola sosial.

Secara praktis, mengintegrasikan pengetahuan tradisional dengan teknologi modern memberi nilai tambah. Di Kabupaten Ponorogo, kami menggabungkan metode “tumpangsari” (tanam bersamaan) tradisional dengan sensor kelembaban tanah berbasis Arduino. Petani dapat melihat data real‑time melalui aplikasi sederhana di ponsel, sehingga mereka menyesuaikan jadwal penyiraman secara tepat.

Adaptasi berbasis desa juga menurunkan beban pemerintah dalam hal infrastruktur skala besar. Bila setiap desa dapat mengelola air hujan, mengurangi erosi, dan meningkatkan produktivitas lahan, maka kebutuhan akan bendungan mega‑proyek berkurang. Ini tidak hanya menghemat anggaran, tetapi juga meminimalkan dampak sosial yang sering muncul dari proyek besar.

Kesimpulannya, desa bukan sekadar penerima kebijakan, melainkan laboratorium hidup untuk menguji strategi adaptasi iklim yang dapat direplikasi secara nasional. Dari pengalaman lapangan saya, ketika desa diberi ruang untuk berinovasi, mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang meski iklim terus berubah.

Ketika petani di desa Sumenep mencoba menanam jagung dengan varietas tahan kering, mereka tak hanya menunggu hujan. Saya ikut serta mengamati mereka mengatur jarak tanam, menambah mulsa jerami, dan memanfaatkan data kelembaban yang di‑upload lewat aplikasi berbasis Android. Dari situ muncul pertanyaan: apa sebenarnya yang dimaksud dengan cara mengatasi dampak perubahan iklim di Indonesia lewat adaptasi desa?

Baca Juga: Inovasi Teknologi Pertanian Modern untuk Petani: Jawaban Lengkap

Apa yang dimaksud dengan cara mengatasi dampak perubahan iklim di Indonesia lewat adaptasi desa?

Secara sederhana, istilah ini merujuk pada serangkaian tindakan yang dirancang oleh masyarakat desa untuk menyesuaikan diri dengan perubahan iklim yang semakin nyata. Bukan sekadar mengikuti program pemerintah, melainkan menggabungkan pengetahuan turun‑bawah—seperti teknik “tumpangsari” atau penggunaan “rumah bambu” yang tahan banjir—dengan inovasi teknologi ringan. Dari pengalaman saya, adaptasi desa meliputi pengelolaan air, diversifikasi tanaman, dan pemanfaatan energi terbarukan yang selaras dengan transisi energi hijau.

Mengapa hal ini penting? Karena desa menampung lebih dari 60 % penduduk Indonesia dan mengelola sebagian besar lahan pertanian. Bila desa mampu mengurangi kerentanan, maka beban nasional pada infrastruktur besar berkurang. Dampaknya bagi masyarakat terasa langsung: petani tidak lagi kehilangan seluruh panen setelah satu kali musim kemarau ekstrem, dan keluarga tidak terpaksa menukar lahan produktif dengan bantuan sosial.

Contoh konkret muncul di Desa Wonosari, Yogyakarta. Di sana, warga mengubah sistem irigasi tradisional menjadi “micro‑catchment” yang mengumpulkan air hujan di cekungan kecil. Hasilnya, pada tahun kering terakhir, mereka tetap memperoleh 30 % produksi padi lebih tinggi dibandingkan tetangga yang masih mengandalkan saluran irigasi umum.

Mengapa adaptasi berbasis desa menjadi kunci utama dalam menghadapi perubahan iklim di Indonesia?

Desa memiliki keunggulan geografis dan sosial yang tidak dimiliki kota. Setiap desa biasanya memiliki satu atau dua jenis tanah, iklim mikro, dan jaringan gotong‑royong yang kuat. Dari pengalaman lapangan, ketika komunitas setempat merasa memiliki kepemilikan atas solusi, partisipasi meningkat secara signifikan. Misalnya, di Kabupaten Lombok Utara, warga secara sukarela memelihara “hutan desa” yang berfungsi sebagai penahan erosi; hasilnya, laju sedimentasi sungai turun setengahnya.

Kunci keberhasilan terletak pada fleksibilitas. Kebijakan pusat seringkali bersifat standar, sementara kondisi desa beragam. Adaptasi berbasis desa memungkinkan penyesuaian cepat—seperti menambah varietas padi yang lebih pendek pada lahan yang mulai terendam karena naiknya muka air laut. Karena keputusan diambil di tingkat lokal, proses implementasi biasanya selesai dalam hitungan bulan, bukan tahun.

Data dari lembaga riset pertanian menunjukkan bahwa rata‑rata desa yang mengadopsi praktik agroforestry meningkatkan hasil buah tropis sebesar 20 % pada periode tiga tahun. Angka ini “umumnya” lebih tinggi daripada desa yang hanya mengandalkan pertanian monokultur, menegaskan bahwa adaptasi lokal memberi dampak ekonomi yang nyata.

Bagaimana cara mengimplementasikan pertanian tahan iklim di desa: langkah‑langkah praktis dan contoh sukses

Berikut langkah yang saya gunakan saat membantu desa di Kabupaten Malang mengubah pola tanam:

  • Diagnosa mikroklimat: gunakan sensor suhu‑kelembaban sederhana (misalnya DHT11) yang terhubung ke modul Arduino; data dikirim ke grup WhatsApp desa untuk analisis harian.
  • Pilih varietas unggul: konsultasikan dengan balai penelitian setempat untuk memilih bibit padi atau jagung yang tahan kekeringan dan toleran terhadap keasaman tanah.
  • Integrasi teknik tradisional: terapkan “tumpangsari” antara jagung dan kacang hijau, sehingga akar kacang menambah nitrogen ke tanah.
  • Manajemen air berbasis komunitas: bangun sumur resapan di titik tertinggi desa, sambil menyiapkan tangki penampungan air hujan untuk penyiraman selama 30‑hari tanpa hujan.
  • Pelatihan dan monitoring: adakan workshop bulanan bersama praktisi pertanian, lalu lakukan evaluasi hasil panen dan kesehatan tanah tiap akhir musim.

Kasus nyata: Desa Cikelet, Jawa Barat, menerapkan rangkaian langkah di atas dan berhasil meningkatkan produksi padi menjadi 4,5 ton/ha, naik dari 3,2 ton/ha sebelumnya. Petani menyebut perubahan ini “menyelamatkan” keluarga mereka dari risiko gagal panen.

Kesalahan umum desa dalam adaptasi iklim dan cara menghindarinya

Salah satu jebakan yang sering saya temui ialah mengandalkan satu teknologi tanpa mempertimbangkan keberlanjutan sosial. Contohnya, sebuah desa di Kalimantan Barat menginstal pompa air diesel untuk mengatasi kekeringan, namun biaya bahan bakar melumpuhkan anggaran desa dalam dua tahun. Dari pengalaman saya, penting untuk menilai total cost‑of‑ownership sebelum mengadopsi solusi.

Kesalahan lain adalah kurangnya inklusi gender. Pada proyek penanaman kembali hutan di Sulawesi Selatan, sebagian besar pelatihan diberikan kepada laki‑laki, padahal perempuan memegang peran utama dalam pengelolaan kebun rumah. Akibatnya, adopsi teknik baru berjalan lambat. Solusinya, libatkan semua kelompok usia dan gender sejak perencanaan, misalnya dengan mengadakan forum “rumah terbuka” yang memfasilitasi pertukaran pengetahuan.

Terakhir, banyak desa mengabaikan aspek legalitas lahan. Saya pernah melihat upaya penanaman pohon mangga di lahan yang belum memiliki sertifikat hak guna usaha; ketika sengketa muncul, seluruh investasi hilang. Memastikan kepemilikan atau perjanjian penggunaan lahan sebelum memulai proyek adalah langkah preventif yang tak boleh dilewatkan.

Tips praktis dari praktisi berpengalaman bersama Asta Cita Media untuk adaptasi desa yang berkelanjutan

Sebagai bagian dari jaringan AstaCitaMedia.id, kami rutin menggelar “Desa Lab” yang mempertemukan pakar klimatologi, teknisi energi terbarukan, dan tokoh masyarakat. Berikut beberapa kiat yang saya rangkum dari sesi tersebut:

  • Mulai dari “quick win”: pasang panel surya mini 100 W di balai desa untuk menggerakkan pompa air; hasilnya, listrik tagihan turun drastis, sekaligus menunjukkan transisi energi hijau yang dapat di‑scale‑up.
  • Gunakan data terbuka dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk membuat kalender tanam berbasis prediksi curah hujan.
  • Bangun “bank benih desa” yang dikelola oleh kelompok tani; simpan varietas lokal yang tahan terhadap suhu tinggi, sehingga ketergantungan pada benih komersial berkurang.
  • Libatkan generasi muda lewat kompetisi inovasi pertanian di sekolah menengah; hadiahnya berupa pelatihan praktik lapangan yang saya fasilitasi.

Semua langkah ini tidak membutuhkan dana milyaran; yang penting adalah komitmen bersama dan pemahaman bahwa cara mengatasi dampak perubahan iklim di Indonesia harus dimulai dari hal‑hal kecil yang dapat direplikasi.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang cara mengatasi dampak perubahan iklim di Indonesia lewat adaptasi desa

Apakah semua desa harus mengadopsi teknologi digital? Tidak mutlak. Di beberapa daerah dengan akses internet terbatas, metode tradisional seperti “teknik penampungan air tradisional” tetap efektif. Pilihan teknologi harus menyesuaikan dengan infrastruktur yang ada.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melihat hasil? Dari pengalaman saya, perubahan signifikan pada produksi pertanian biasanya terlihat dalam 1‑2 musim tanam setelah semua langkah diimplementasikan secara konsisten.

Bagaimana cara memperoleh pendanaan? Banyak lembaga donor, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup, menyediakan hibah khusus untuk proyek adaptasi desa. Kunci keberhasilan adalah menyiapkan proposal yang menekankan partisipasi komunitas dan rencana pemeliharaan jangka panjang.

Apakah ada risiko kegagalan? Selalu ada risiko, terutama bila faktor sosial tidak terkelola dengan baik. Oleh karena itu, penting untuk melakukan evaluasi risiko secara periodik dan menyiapkan rencana kontinjensi.

Kesimpulan: Langkah selanjutnya yang dapat desa ambil untuk mengatasi dampak perubahan iklim

Jika desa ingin melangkah lebih jauh, langkah pertama adalah membentuk tim adaptasi yang terdiri dari tokoh adat, petani, dan pemuda teknologi. Tim ini kemudian menyusun peta risiko iklim desa, mengidentifikasi area rawan banjir atau kekeringan, dan menyesuaikan rencana aksi yang bersifat fleksibel. Selanjutnya, desa dapat memetakan potensi energi terbarukan—seperti mikro‑hidro atau biogas—yang selaras dengan transisi energi hijau dan menilai dampaknya bagi masyarakat dalam hal pengurangan biaya energi dan peningkatan ketahanan pangan.

Dengan memadukan pengetahuan turun‑bawah, dukungan teknis dari Asta Cita Media, serta komitmen kolektif, desa tidak hanya mampu bertahan, melainkan menjadi contoh inovatif bagi wilayah lain dalam mengatasi dampak perubahan iklim di Indonesia.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BRIN-Kemendiktisaintek Tekankan Penguatan Riset Kedaulatan Energi

    BRIN-Kemendiktisaintek Tekankan Penguatan Riset Kedaulatan Energi

    • calendar_month Sabtu, 31 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menekankan penguatan riset dan teknologi untuk kedaulatan energi melalui penyelenggaraan Energy Leadership & Business Conference (ELBC) 2026. Kepala BRIN Arif Satria di Jakarta, Sabtu, menegaskan transformasi energi nasional harus mampu menjawab tiga tantangan utama, yakni ketahanan pasokan, keterjangkauan biaya […]

  • Remote Ready: Essential Tech Tools for the Digital Nomad

    Remote Ready: Essential Tech Tools for the Digital Nomad

    • calendar_month Minggu, 23 Feb 2025
    • account_circle Lili Cheng
    • 0Komentar

    As the timeline of technology perpetually accelerates, 2023 emerges as a testament to human creativity and ingenuity. The realm of gadgets is no longer restricted to mere utility; it’s about amplifying human potential and redefining boundaries. With each passing day, these handheld marvels become an even more integrated part of our daily lives, intertwining with […]

  • Menkum Supratman Ungkap Arahan Prabowo: Pangkas Aturan Rumit dan Percepat Perizinan

    Menkum Supratman Ungkap Arahan Prabowo: Pangkas Aturan Rumit dan Percepat Perizinan

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Menteri Hukum Supratman Andi Agtas mengungkap arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menyederhanakan regulasi dan menghapus aturan yang tidak lagi diperlukan. Langkah tersebut dinilai penting agar pembangunan nasional dan pelayanan kepada masyarakat tidak terhambat oleh prosedur birokrasi yang rumit. Arahan itu disampaikan Supratman saat membuka Forum Nasional Pembangunan Hukum di Aula Kementerian Hukum, Jakarta […]

  • Millennials: Bagaimana Peran Milenial dalam Membangun Ekonomi Kreatif

    Millennials: Bagaimana Peran Milenial dalam Membangun Ekonomi Kreatif

    • calendar_month Senin, 26 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Generasi milenial kini menjadi penggerak utama ekonomi kreatif lewat adopsi teknologi digital, kolaborasi lintas‑sektor, dan penciptaan konten yang mudah diakses pasar global. Mereka tidak hanya mendirikan start‑up kreatif, tapi juga mempopulerkan model bisnis berbasis platform, sehingga memperluas peluang kerja dan meningkatkan kontribusi sektor ini terhadap PDB nasional. Milennial kini menjadi tulang punggung utama […]

  • Menperin Usul Mobil Hybrid Bebas Ganjil Genap dan Dapat Parkir Khusus

    Menperin Usul Mobil Hybrid Bebas Ganjil Genap dan Dapat Parkir Khusus

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengusulkan pemberian insentif nonfiskal bagi kendaraan hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan range extended electric vehicle (REEV). Insentif tersebut di antaranya berupa pembebasan aturan ganjil genap, fasilitas parkir khusus, hingga kemudahan administrasi. Usulan ini ditujukan untuk mempercepat pertumbuhan industri otomotif nasional sekaligus mendorong penghematan bahan bakar minyak […]

  • Messi has two assists as Inter Miami plays NYCFC to draw in MLS season opener: Highlights 07.09 Play Button

    Messi has two assists as Inter Miami plays NYCFC to draw in MLS season opener: Highlights

    • calendar_month Senin, 20 Jan 2025
    • account_circle Safid Deen
    • 0Komentar

    All it took was five minutes for Lionel Messi to make his mark at the start of Inter Miami’s 2025 Major League Soccer season. About 95 minutes later, Messi shined again, saving Inter Miami’s night. Messi found new teammate Telasco Segovia, trailing on his right side, and delivered his second assist of the game in […]

expand_less